kontemplatif

Jejak

Cuap canda bertaruh mantra
Mengikis abu terkais sudra

Melata hamba tak kunjung senja
Melihat jejak di sisi tahta

O! Kaing anjing di sebrang  mata
O! Erang hamba sampai tutup sirna

Menjejak campur debu
Melangkah haru baru

~

Iklan
kontemplatif

Past Teenage Angst

Saya tidak bisa tidur.

Tentu saja ini bukan merupakan alasan bagus untuk pria seperti saya menunda istirahat di akhir long weekend seperti saat ini.

Pasti  ada alasannya. Mungkin,..

Saya terus saja memikirkan banyak hal. Tentang menjadi dewasa itu ternyata tidaklah seramai yang kamu, para remaja itu duga. Soal eksistensi diri. Tentang seberapa jauh konsumerisme mendefinisikan ulang dan menculik makna kebahagiaan dari kita. Terkesan cliche?

Boy, life is awkwardly cliche.

Sampai kapan kamu terjebak dan terus berpikir kalau kamu adalah individu yang teramat unik sampai ke sumsum tulang?

Bila menjadi berbeda itu adalah bagaimana mulut kita terus menganga dan menelan segala sesuatu untuk dikonsumsi untuk sebuah tujuan agung yaitu “menjadi berbeda”, maka dalam bilangan tahun kedepan saya berani jamin kamu akan merasa kosong. Bahwa kamu butuh sesuatu yang lebih untuk bisa lebih bermakna.

Menjadi dewasa itu amat sunyi.  Penuh dengan penarikan diri masuk ke dalam gua bernama perenungan. Kamu akan masuk, lalu keluar lagi.  Terus begitu sampai kamu merasa cukup dan telah mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang kamu lempar terhadap diri kamu sendiri.

Pada saat ini mungkin kamu hanya berpikir bahwa diakui dan eksis adalah tujuan utama dalam hidup kita. Teruslah mengejarnya, maka suatu hari kamu akan terbangun dari tidurmu pada usia paruh baya, dan mendapati rumah yang kamu tempati kosong tanpa penghuni didalamnya.

Dear remaja, mungkin kamu pun akan mengalaminya suatu hari nanti. Sampai saat itu tiba,

Bersenang-senanglah.

kontemplatif

The Evening Train

He could drawn into desperation,
He could be hanged by the ropes of agony,

or tears.

But always in the end,
man will knows that his feet is touching the earth.

And no desperation, agony or tears could forbade him from finding his own purpose of life.

Because a man he is.

kontemplatif

2010 Dalam Kilasan

Begini, kira-kira sebenarnya saya ingin mengikuti jejak orang-orang lain untuk menuliskan pengalaman mereka selama tahun 2010 kemarin. Tetapi apa daya, baru sekarang saya sempat untuk menuliskannya. Itu pun tidak terlalu banyak :D.

Untuk saya sendiri, tentunya banyak sekali pengalaman absurd, romantis, dan pencapaian pribadi lainnya yang telah saya lalui. Dan tentunya ada lebih banyak lagi hal yang ingin saya capai dan tingkatkan di tahun yang baru ini.

Berikut adalah daftar kilasan pengalaman pribadi pada tahun 2010 yang sesempatnya saya ingat:

  1. Siklus panas hujan yang makin tidak menentu di Bogor.
  2. Ternyata Sushi itu enak.
  3. Adonan Takoyaki yang dijual di Ciwalk Bandung itu mirip dengan Bakwan.
  4. Resleting celana panjang saya sudah dua kali rusak tahun ini.
  5. Ternyata saya masih belum hapal-hapal jalur angkot di Bandung meski sudah berulang kali berkunjung kesana.
  6. Makanan-makanan  yang saya temui di Banda Aceh tidak ada yang dicampur dengan “daun-surga” (Katanya sih, kalau mau yang ‘dicampur’ juga ada 😛 ).
  7. Sudah hampir dua tahun saya sukses jadi pescetarian.
  8. Jika sedang berada di Puncak, Bogor saya ternyata bisa menghabiskan minuman sereal instan seduh sebanyak 6 bungkus dalam waktu 2 jam saja.

Demikianlah pengalaman-pengalaman kurang penting saya di tahun 2010 kemarin. Bagaimana dengan anda?

Salam dari Bogor
kontemplatif

Writer’s Block

Terus terang saya suka malas sekali kalau sedang terkena gejala ini. Perasaan menggebu-gebu ingin menuangkan sesuatu kedalam bentuk tulisan terhapuskan begitu saja oleh aksi bengong beberapa lama di depan notebook. Alih-alih paragraf, yang kita dapatkan terkadang hanyalah sensasi pusing karena menatap kursor yang berkedip-kedip di depan kita.

Menurut Wikipedia, writer’s block (WB) kira-kira maksudnya seperti berikut:

“A writer’s block is a condition, associated with writing as a profession in which author loses the ability to produce new work”.

Berhubung saya menulis hanya untuk hobi-hobi saja dan bukan untuk profesi, paling-paling saya akan lebih sering ngedumel karena tidak bisa menuangkan buah pikiran saya karena WB :).

Tetapi bila kita memang benar-benar harus menulis dikarenakan kebutuhan yang mendesak seperti paper dan skripsi, berikut adalah hal-hal yang biasanya saya lakukan untuk mendapatkan kembali mood menulis:

  • Buatlah secangkir teh hangat tanpa gula, dan minumlah dengan posisi rileks.
  • Tinggalkan komputer sejenak untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tidak membutuhkan banyak pemikiran, seperti menyapu, membersihkan kamar mandi, dll.
  • Buatlah pengorganisasian ide dan buatlah outline tulisan sebagai patokan mengenai benang merah tulisan yang sedang kita kembangkan.
  • Jika sudah benar-benar mentok. Lebih baik tidur sebentar untuk mengistirahatkan pikiran, siapa tahu anda butuh istirahat karena burnout 😛
kontemplatif

Mandi

Kita semua pasti selalu melakukan aktivitas mandi secara rutin dan teratur. Mandi untuk sebagian kebudayaan malah merupakan suatu ritual penting yang melambangkan pembersihan diri dari dosa-dosa yang melekat pada tubuh. Dan tidak terhitung manfaat kesehatan yang kita peroleh dengan mandi.

Mengapa tiba-tiba saya membahas hal remeh-temeh seperti ini? Mungkin semua berawal dari kebiasaan saya berpikir dan berkontemplasi saat sedang berada ditempat yang penuh dengan air tersebut. Pagi hari saat mandi saya selalu berpikir mengenai hal-hal yang akan saya kerjakan ketika hari berjalan. Sorenya ketika mandi saya selalu merenungkan apa yang telah saya kerjakan, dan apakah keringat dan bau badan saya sepadan dengan dengan hasil yang didapatkan pada hari tersebut. Mungkin anda juga melakukan hal yang sama setiap harinya.

Buat saya mandi adalah mengenai persiapan dan perenungan mengenai hidup. Mandi juga merupakan simbolisasi pencucian jiwa dan raga agar tetap bersinar dan tidak “kotor”. Hal itulah yang kemudian membuat saya berpikir bahwa istilah “cuci-tangan” mungkin dibuat oleh orang bijak jaman dahulu untuk menggambarkan pelarian diri dari kesalahan yang telah diperbuat. Mungkin tangannya telah dicuci agar terlihat bersih di mata orang lain, tetapi hati dan bagian tubuh yang lainnya tetap tidak bersih.

Jadi, para koruptor janganlah hanya “cuci tangan” saja. Tetapi hendaklah “mandi” hingga sadar, mengakui kesalahan, dan bersih kembali.