Cerpen

Teman

*) Cerpen ini adalah fiksi. Nama, tempat dan kejadian adalah rekaan penulis belaka.

Aku yakin kita semua memiliki teman. Entah itu banyak atau sedikit, karib maupun hanya kenal muka saja. Atau bahkan saling membantu dan saling mengkhianati satu sama lain. Itulah teman. Namun, pernahkah ada kisah menarik yang tak terlupakan mengenai kisah pertemanan kita? Kisah yang akan aku sampaikan ini mungkin akan terdengar biasa-biasa saja, tetapi peristiwa tersebut mengajarkanku mengenai arti dan makna sebuah persahabatan.

Aku tumbuh dan berkembang di kota terbesar di negara ini. Kota dimana ketamakan dan beton-beton tinggi memenuhi hampir seluruh sisinya. Ayahku dahulu datang ke kota ini untuk mencari hidup yang lebih baik, mungkin juga menjadi impian puluhan juta ayah-ayah lain beserta keluarganya. Disitulah aku bertemu dengan Parmin, sahabat matiku.

Ayah Parmin bekerja sebagai penjual es kelapa muda yang mangkal di satu sisi jalan protokol di Jakarta. Sedangkan ayahku, berjualan gorengan di sampingnya. Ayahku dan ayah Parmin sangat akur, pelanggan gorengan ayahku sering membeli es kelapa muda dagangan ayah Parmin dan begitu pula sebaliknya. Kami pun bersahabat secara natural dan tumbuh besar bersama di pinggir jalan tersebut.

Parmin bertubuh gemuk. Berbeda dengan aku yang kurus kering karena tidak doyan makan sayur. Kami adalah angka sepuluh yang akrab. Bahkan hampir seluruh pedagang kaki lima menganggap kami sebagai maskot keberuntungan pedagang-pedagang sisi jalan ini.

Parmin senang sekali membuat orang tertawa karena ulahnya. Perutnya yang besar selalu bergoyang-goyang setiap kali ia tertawa dengan renyah. Ya, semua menyukai Parmin. Setidaknya aku juga begitu.

Aku sedikit lebih beruntung dibanding Parmin pada urusan sekolah. Ia selalu mengantuk dan terlalu malas untuk mempelajari pelajaran yang diberikan oleh guru. Alih-alih ia malah mencontek. Paling sering pekerjaanku yang dicontek olehnya. Tidak perduli sudah berapa kali ia dihukum berdiri di muka kelas karena ulahnya tersebut. Tetapi semua tetap suka Parmin. Setidaknya ibu guru juga begitu.

Saat itu sore yang panas tanpa angin di sisi jalan, ketika dagangan ayahku masih tersisa setengah dan es ayah Parmin belum banyak terbeli. Tidak ada yang istimewa pada sore itu, kecuali kedatangan petugas berseragam coklat dengan menggunakan truk-truk yang besar dan menyeramkan. Mereka turun, dan mulai merusak barisan pedagang yang ada disitu. Dagangan ayahku dan ayah Parmin juga.

Semua seakan panik dan berhamburan menyelamatkan diri dan dagangannya masing-masing. Ayahku berteriak memintaku untuk segera berlari bersamanya untuk kabur sementara ke tempat aman. Aku melihat Parmin sudah mendorong gerobak es ayahnya ke arah yang sama denganku.

Kami berniat pergi ke arah seberang jalan dengan secepat-cepatnya. Suara peluit dan teriakan petugas bagaikan genderang penyulut kematian nafkah kami. Kami hanya ingin cepat sampai ke seberang jalan dan selamat.

Kami menyeberang jalan dengan amat terburu-buru. Nafasku terengah-engah mendorong laju gerobak yang amat berat untuk anak seusiaku, sampai aku tidak sadar sandalku terlepas dari kaki kananku. Ayahku berteriak untuk meninggalkan sandal tersebut dan tetap mendorong gerobak bersamanya. Tetapi persetan. Itu sandal pemberian nenek, dan aku sayang terhadapnya.

Aku berlari beberapa langkah kebelakang untuk mengambil sandal tersebut. Ketika aku sudah hampir berhasil mengambilnya, seseorang mendorongku. Kemudian yang terdengar hanyalah bunyi keras.

Bunyi benturan dan gemertak tulang patah.

Ketika aku sadar, aku sudah di rumah sakit. Kaki ku patah, namun tidak membuat mati. Ayahku tampak sembab, dan ibuku tersenyum sambil mengelus-elus keningku. “Kamu selamat, nak.” katanya. Mataku kemudian meraba sudut ruangan, di seberangku kulihat ayah Parmin. Ibunya juga. Ayahnya terisak sembari menjambak-jambak rambutnya sendiri, dan ibunya meraung-raung. Suaranya memenuhi ruangan sehingga ruangan menjadi hitam pekat oleh duka. Namun aku mencari Parmin.

“Kemana Parmin, yah?” aku bertanya dengan lirih ke ayahku.

Ayahku hanya diam, lalu menggeleng. Pandanganku kemudian kembali menatap seberang. Sesosok mungil terbujur dihadapanku. Selimut murah kelas tiga menyelimutinya hingga ke ujung kepala. Darah tampak merembes pada beberapa sisi selimut tersebut.

Dan perutnya pun buncit.

Parmin mendorongku ketika ia menyadari bahwa aku hampir ditabrak mati. Ayahku berkata bahwa ia tertabrak dengan sandalku berada di genggamannya. Aku meraung dan meratap sejadinya.

Itulah Parmin, sahabatku. Dan aku benci petugas berbaju coklat mulai saat itu.

Iklan

2 pemikiran pada “Teman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s