Cerpen

Eclectic Love

*please note that this writing is purely fictional.

Apa yang anda rasakan ketika bangun di suatu pagi dan tiba-tiba merasa hampa?

Perasaan sesak yang mengganggu dan kehabisan udara…

Itulah yang tampaknya dirasakan oleh Sasi beberapa minggu belakangan ini.  Sinar matanya semakin redup saja. Wajahnya yang cantik pun ternyata tidak sanggup menyembunyikan kegelapan yang ada di kepalanya sekarang.

Jelas Sasi sedang punya masalah, aku tahu itu. Tetapi haruskah aku peduli? Haruskah aku bicara dan berbagi cerita dengannya saat ini? Kurasa tidak,

Aku hanya pengamat kali ini.

Aku tahu ketika Sasi berjalan dengan gontai menuju kampus,  ia seakan mencoba meraih sekitarnya dengan tatapan matanya yang kelam dan langkahnya yang beku.

Aku tahu ketika Sasi mengetuk-ngetukkan pensil di atas meja dengan jemarinya yang lentik, ia bukan sedang bosan.  Ia seakan mencoba menghitung, menerka kapan waktu gelap ini akan berakhir untuknya. Aku tahu itu…

Aku tahu ketika Sasi sedang membaca, bukan isi buku itu yang ia serap. Melainkan hanya baris demi baris kenangan pahit yang tertulis dan terpaku di balik rambut indahnya yang lebat.

Aku tahu itu,  dan merasa muak dengan semua ini.

Aku muak dengan derita yang ia pilih sendiri…

Aku muak dengan diri ini, mengapa aku harus memikirkan itu semua.

Padahal untuk bisa ingat Sasi saja aku sudah muntah.

“Nandi?…”

Suara itu membuyarkan lamunanku. Itu Dina. Sahabat Sasi sejak dulu, aku tahu itu…

Aku hening, tapi sekiranya Dina sudah tahu itu. Ia kemudian duduk di samping bangku taman kampus yang sedang kududuki.

“Masih disini?”

Dina mencoba memecahkan esnya, es kebekuanku.

Aku hanya menoleh dan kemudian hanya tersenyum getir kepadanya.

 

“Kamu lihat keadaan  Sasi sekarang?”

Tanya Dina sembari tidak membalas senyumanku.

 

“Setiap hari.”

Jawabku singkat.

 

“Mau sampai kapan kamu begini, Ndi? Kamu mengerti Sasi kan? ”

Dina hanya berbisik, tetapi ia bagai teriak di sampingku. Aku resah, aku pun bangkit dan meninggalkan Dina sendirian dibangku itu.

 

“Nandi… Nandi…”

Dina pun bangkit dan bicara dengan keras, ia berharap agar aku sudi mendengarkannya.

 

“Mau sampai kapan kamu mau memaafkan Sasi, Nandi? Mau sampai kapan?”

Dina mulai terisak. Aku pun berhenti, tetapi tetap enggan berbalik ke arahnya. 

 

“Sasi hancur, Ndi… hancur…”

Dina tidak bisa menghentikan isak tangisnya. Telingaku mulai berdengung kali ini…

 

“PERSETAN… Kalau Sasi hancur, aku juga, Din…

dia menghancurkan impianku,

dia melindas perasaanku dengan kendaraan egonya,

Kamu nggak bakalan pernah mengerti Din… ”

Aku meraung kepada Dina. Aku telah lepas kendali kali ini.

 

“Sasi menyesal, Ndi… Sasi salah pilih,… Ternyata kamu cinta sejati Sasi…”

Isakan Dina memenuhi rongga dadaku. Aku muak.

 

Aku pun beranjak pergi, teriakan-teriakan Dina di belakangku terasa semakin samar…

Dan  hilang…

Dua minggu kemudian Sasi pergi.

Sasi memakai kalung pemberianku dan pergi ke tempat kesukaan kami berdua, lalu ia menghirup arsenik di sana.

Ya, Sasi benar-benar telah pergi kali ini.

Aku tahu hal ini dari Dina, yang datang ke depan pintu rumahku dan menamparku sambil terisak dan meledakkan semua emosinya di hadapanku.

Aku hanya diam, kemudian menutup pintu dari Dina.

Aku kemudian terduduk di balik pintu, tenggelam.

Perasaan sesak dan hampa ini mungkin akan setiap pagi ada, dan terus berulang.

Dan Sasi, aku hanya ingin kamu kembali…

 

Bogor kala hujan, 29 Maret 2009.

Iklan

4 pemikiran pada “Eclectic Love

  1. Mameeeen!! I know that love can be both killing and living. Tapi mbok ya realistic.

    Ah, suka miris ngeliat orang rela mati demi cinta. Masih banyak ikan di laut, cuy..

    Tapi, ini fiksi sih ya? Oke deh. Bisa diterima. Hahahaha.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s